01 Januari 2013

Tirani Kebaruan


Hal yang baru biasanya menyenangkan dan menyegarkan. Di tahun baru ini mungkin kita telah membeli baju baru, sepatu baru, dan barang-barang baru lainnya.

Di satu sisi, memang membeli barang-barang baru merupakan keniscayaan karena tidak ada barang yang tahan selamanya. Barang yang sudah usang dan rusak perlu diganti dengan yang baru.

Namun di sisi lain kita sering tidak sadar bahwa sistem pasar global menggiring kita untuk selalu membeli sesuatu yang lebih baru. Parahnya, sering kali kita tidak berdaya untuk menolak “paksaan” tersebut dan terpaksa ikut membeli sesuatu yang sebetulnya belum kita perlukan.

Di semua bidang kehidupan ada tuntutan untuk ‘melek’ akan hal yang baru. Di bidang musik, misalnya, sebagian besar masyarakat selalu tidak mau ketinggalan untuk tahu lagu-lagu baru agar tidak dibilang ‘kuper’.

Teknologi hardware dan software yang selalu berkembang pun menyeret masyarakat untuk selalu membeli dan mempelajari teknologi baru.


Derasnya arus kebaruan yang menghanyutkan ini sering kali tidak disadari menjadi tirani bagi manusia. Tanpa sadar manusia telah diperbudak oleh hasrat untuk memiliki hal-hal terbaru.

Tirani kebaruan merupakan tuan yang kejam. Ia membutakan mata kita akan nilai-nilai luhur dari hal-hal lama, dan memasung pandangan kita sehingga kita yakin bahwa hal-hal baru pasti lebih baik dibanding yang lama.

Tirani kebaruan membuat kita tamak, tidak pernah puas, dan haus terus-menerus akan hal-hal baru. Ia meyakinkan kita bahwa bungkus lebih penting daripada isi, bahwa bentuk lebih utama daripada fungsi.

Di awal tahun ini, marilah kita merenungkan apakah kita membeli barang-barang baru hanya sekadar demi kebaruan? Waspadalah, jangan-jangan kita adalah salah satu budak tirani kebaruan. —Danny Salim

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 1/1/2013 (diedit seperlunya)

==========

Artikel Terbaru Blog Ini