01 Juni 2013

Tak Tahu Berterima Kasih


Seorang gelandangan diundang ke rumah seorang kaya yang baik hati. Sambil mengganti pakaiannya yang dekil dengan pakaian baru yang diberi oleh tuan rumah, ia berkata, "Ini baju yang bagus, namun saya tidak terlalu suka warna garis-garisnya!"

Ketika menyantap hidangan, ia berkata, "Ini makanan yang enak, hanya saja ikan panggangnya terlalu gosong. Supnya pasti lebih enak kalau ditambah sedikit lagi merica. Dan, es buahnya akan lebih nikmat kalau ditambah sirup rasa leci."

Ketika ia dipersilakan beristirahat di kamar, ia berkata, "Ini kamar yang mewah, lengkap dengan pendingin ruangan. Hanya saja, kasurnya kurang tebal!" Sikap yang konyol, bukan?


Akan tetapi, jika dicermati, manusia kerap bersikap seperti si gelandangan itu terhadap Tuhan yang Mahabaik. Kebanyakan orang cenderung tidak tahu berterima kasih kepada-Nya. Mereka lupa bersyukur pada saat tengah dilingkupi kebahagiaan.

Sebaliknya, mereka mulai mempertanyakan kebaikan Tuhan ketika hal buruk menimpa mereka. Tidak jarang orang menganggap dirinya terlalu saleh, sehingga tidak pantas mengalami penderitaan tertentu.

"Saya sudah setia melayani Tuhan, tetapi mengapa Tuhan mengizinkan musibah ini menimpa keluarga saya?" kata mereka.

Bagaimana mengatasinya? Yaitu dengan menyadari bahwa kita diberi anugerah oleh Tuhan karena kebaikan-Nya, bukan karena kehebatan diri kita.

Kesadaran ini mendorong kita untuk bersyukur kepada-Nya dan berbelas kasihan pada orang yang tidak tahu berterima kasih kepada kita.

Menyadari ketidaklayakan kita dalam menerima anugerah, membuat hati kita dipenuhi rasa syukur yang melimpah.

* * *

Penulis: Hembang Tambun | e-RH, 1/6/2013

(diedit sedikit)

==========

27 April 2013

Ketika Bosan Bekerja


Salah satu kebiasaan yang paling digemari oleh para karyawan muda ketika berkumpul dengan teman-teman adalah saling mengeluhkan keburukan kantor dan kejelekan atasan masing-masing.

Selalu ada saja di antara kita yang merasa 'terpaksa' menjalani pekerjaannya, tidak bahagia bekerja di kantor, dll. Sebuah kondisi yang ironis sebenarnya.

Alangkah indahnya jika kita dapat bekerja dengan hati yang senantiasa antusias. Nyatanya, tak diragukan kita pun tak luput dari rasa bosan dan mungkin kejengkelan. Kenapa bisa begitu?


Dalam kitab Kejadian, kita belajar bahwa Tuhan menempatkan manusia di dunia untuk menjadi pekerja, bukan sekadar penikmat. Tuhan memberi Adam sarana untuk mengaktualisasikan dirinya lewat tugasnya mengelola Taman Eden.

Sayangnya, setelah Adam jatuh ke dalam dosa, manusia harus berkeringat dalam bekerja (Kejadian 3:17-19). Pekerjaan dapat menjadi beban yang berat dan rutinitas yang membosankan.

Bagaimana mengatasinya? Yang terutama, kita perlu menyadari keterlibatan Tuhan dalam pekerjaan kita. Jika kita bekerja sekadar untuk mencari uang atau menyenangkan orang lain, kejenuhan gampang muncul.

Ketika kita merasa hambar dalam bekerja, kemungkinan kita perlu mengubah perspektif kita: bahwa pekerjaan adalah kesempatan dan kehormatan dari Tuhan bagi kita untuk turut berkarya dalam kerajaan-Nya.

Mungkin kita juga perlu memikirkan metode dan cara kerja yang baru dan kreatif untuk menghindari kejenuhan.

Pekerjaan semestinya bukan menjadi sumber kebosanan, melainkan suatu kehormatan yang mendatangkan sukacita.

* * *

Penulis: Olivia Elena | e-RH, 27/4/2013

(diedit seperlunya)

==========

23 April 2013

Makna Sebuah Pekerjaan


Ketika saya mulai mengikuti program pascasarjana, dosen pembimbing memberikan suatu nasihat. Ia mengatakan, meskipun dirinya menjadi sponsor atas proyek penelitian yang saya kerjakan, saya harus memandang dan menganggap proyek itu sebagai proyek pribadi saya.

Saya harus berpikir bahwa saya bukan sedang mengabdi kepadanya, melainkan kepada masyarakat dan masa depan saya sendiri. Pemikiran ini, menurutnya, penting untuk mendorong saya bekerja dengan bersungguh-sungguh.

Keseriusan kita dalam mengerjakan sesuatu sering kali memang ditentukan oleh makna yang kita berikan pada pekerjaan tersebut. Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose berikut ini.

"Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23)

Secara khusus, Paulus memberikan penjelasan mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka sebagai pelayanan kepada Tuhan, yang pasti akan dibalas-Nya dengan upah surgawi.


Paulus percaya bahwa dengan pemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan mereka dengan berintegritas dan tulus hati. Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun juga bagi kita semua dalam mengerjakan tugas apa pun.

Tugas harian kita sebagai pekerja, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya kadang terasa melelahkan, bahkan menyebalkan. Adakalanya kita melakukannya dengan malas-malasan.

Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan yang berharga di mata Tuhan, niscaya kita akan terdorong untuk terus berusaha mengerjakannya dengan sebaik mungkin.

Memaknai tugas sebagai pelayanan kepada Tuhan menggugah kita untuk meraih keunggulan.

* * *

Penulis: Alison Subiantoro | e-RH, 23/4/2013

(diedit seperlunya)

==========

17 April 2013

Agama dan Ilmu Pengetahuan


Beberapa tahun terakhir terjadi perdebatan ramai antara ilmu pengetahuan dan agama. Baik dalam soal etika kloning dan sel punca, atau soal teori evolusi. Yang paling mutakhir, mungkin adalah klaim bahwa alam semesta bisa tercipta tanpa campur tangan Tuhan.

Sedikit banyak, hal ini bisa membuat kita bertanya-tanya apakah ilmu pengetahuan memang bertentangan dengan iman. Apakah memang orang beriman tidak boleh terlibat dalam pengembangan ilmu pengetahuan?

Kitab Suci justru mendorong orang untuk mencari pengetahuan. "Pengetahuan" di sini merujuk pada segala ilmu yang membuat seseorang lebih pandai dan dewasa secara karakter. Ilmu pengetahuan alam dan teknologi —yang kerap mengandung isu yang bisa diperdebatkan— tentu termasuk di dalamnya.


Orang-orang yang tidak mau berusaha menjadi lebih pintar (berhikmat) dan menerima didikan justru disebut orang bodoh. Lebih jauh, frasa "takut akan Tuhan" selalu memiliki arti "hormat, mengagungkan, dan memuliakan Dia".

Maka, setiap ilmuwan yang menggali dan mengembangkan pengetahuan dengan hormat dan kekaguman kepada Tuhan akan menemukan kebenaran luar biasa atas misteri alam semesta. Sebab, Dialah Sang Pencipta, sumber segala pengetahuan.

Dengan takut akan Tuhan kita dapat menerapkan pengetahuan untuk memuliakan Dia.

Jadi, kita tak perlu ragu terlibat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Juga tak perlu ragu mendorong anak-anak dan orang-orang di sekitar kita untuk mempelajarinya, dengan selalu menjadikan Tuhan sebagai pusat pembelajaran kita. —ALS

Kejarlah dan kembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan landasan takut akan Tuhan.

* * *

Sumber: e-RH, 5/8/2011

(diedit seperlunya)

==========

25 Maret 2013

Terus Bergerilya


Perang Dunia II telah usai. Namun, Letnan Dua Hiroo Onoda, prajurit Jepang yang bertugas di Pulau Lubang, Filipina, tidak percaya. Ia memilih bersembunyi di hutan.

Ia menganggap selebaran, surat, foto, atau koran yang dijatuhkan dari pesawat terbang sebagai tipu muslihat musuh. Selama hampir 30 tahun ia terus berjuang sebagai gerilyawan.

Pada 1974, seorang mahasiswa Jepang melacak jejaknya dan menemukannya. Namun, ketika diajak pulang, Onoda menolak.

Hiroo Onoda saat Perang Dunia II (1944), dan 30 tahun kemudian (1974) setelah ditemukan.

Akhirnya, pemerintah Jepang mengutus mantan komandan Onoda, Mayor Yoshimi Taniguchi, mendatangi dan memerintahkannya untuk meletakkan senjata. Barulah Onoda menurut dan bersedia pulang ke negerinya.

Hidup Onoda pun berubah. Ia tidak lagi menyerang para petani Filipina. Dan, di Jepang, ia menggalang dana beasiswa bagi anak-anak para petani itu.

Pada 1996 ia berkunjung kembali ke Pulau Lubang dan menyerahkan sumbangan sebesar 10.000 dolar untuk sekolah setempat.

Ia berterima kasih kepada penduduk pulau itu, yang membiarkannya terus hidup selagi ia bersikeras tetap menjadi prajurit gerilya walaupun perang telah usai.

Hiroo Onoda pada masa tuanya.

Kesadaran akan identitas diri kita tak ayal memengaruhi perilaku kita. Sebagai umat yang telah dipanggil Tuhan dan dimerdekakan dari belenggu dosa, kita perlu memiliki cara hidup yang baru, yaitu cara hidup yang selaras dengan panggilan itu.

Ya, alih-alih terus berkutat dengan dosa, bukankah sepatutnya kita bersukacita merayakan kemerdekaan yang telah dianugerahkan-Nya dengan penuh rasa syukur?

* * *

Penulis: Arie Saptaji | e-RH, 25/3/2013

Judul asli: Masih Bergerilya

(diedit seperlunya)

==========

23 Maret 2013

Kekayaan


Fortune adalah majalah bisnis di Amerika yang didirikan oleh Henry Luce pada 1930. Majalah ini dikenal oleh masyarakat dunia karena kerap menuliskan daftar orang terkaya di dunia.

Daftar tersebut selalu menimbulkan daya tarik tersendiri bagi orang banyak. Mungkin karena kekayaan adalah hal yang selalu dicari oleh manusia.


Alkitab sendiri tidak mencatat bahwa kekayaan atau menjadi kaya itu salah. Justru Alkitab mencatat kekayaan sebagai salah satu berkat dari Tuhan.

Akan tetapi, apabila kita tidak berhati-hati, kekayaan dapat mengarahkan hati kita pada kesombongan dan makin menjauh dari Tuhan seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel pada zaman Nabi Yesaya.

Pada saat itu bangsa Israel sedang berada dalam kondisi makmur. Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka bersyukur kepada Tuhan. Mereka malah menjauh dari Tuhan, menyembah berhala, dan menjadi sombong. Allah pun menegur dan menghukum mereka.

Berhati-hati dan waspadalah terhadap kekayaan. Prinsip yang mengatakan bahwa "segala sesuatu bisa dilakukan asal ada uang" memang banyak berlaku di mana-mana.

Prinsip itulah yang biasanya membuat diri kita merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa pertolongan Tuhan, dan akhirnya membuat kita menjauh dari-Nya serta menjadi sombong takabur.

Menjadi kaya bukanlah hal yang keliru. Akan tetapi, kita harus memandang kekayaan sebagai berkat atau pemberian dari Tuhan. Karena hanya dengan cara itulah kita dapat bersyukur kepada Tuhan dan menjaga hati kita untuk tidak sombong. —RY

Menjadi kaya bukan dosa tetapi mencari dan memakai kekayaan dengan cara yang salah, itu dosa.

* * *

Sumber: e-RH, 21/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

08 Maret 2013

Istirahat


Berapa banyak di antara kita yang saat ini disibukkan oleh berbagai pekerjaan, pelayanan, urusan keluarga, relasi sosial, dan hal-hal lain? Disadari atau tidak, diakui atau tidak, banyak di antara kita dewasa ini yang sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa beristirahat atau hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat.

Kerja... kerja... dan kerja. Aktivitas demi aktivitas datang silih berganti atau malah bersamaan. Tak heran jika orang lantas cenderung menjadi gampang tersinggung, kesal, dan marah, menderita sakit kepala, sakit punggung, selalu merasa lelah, penat, letih, lesu, tak berdaya, dan kehilangan minat.

Hati-hati jika kita telah menunjukkan tanda-tanda itu, sebab kita mungkin sudah mengalami suatu kondisi yang oleh Herbert Freudenberger dikategorikan sebagai burnout, yaitu kelelahan fisik, emosional, dan mental.


Gejala lain dari burnout antara lain: sukar tidur, mengalami gangguan pencernaan, merasa sedih, enggan berangkat kerja, sering absen, menarik diri, sinis, merasa gagal, merasa ragu-ragu, kehilangan motivasi, berprasangka, butuh waktu lebih lama untuk melakukan tugas, lari dari tanggung jawab.

Banyak hal yang bisa menyebabkan orang mengalami burnout, antara lain: terlalu banyak kerja tanpa cukup waktu untuk relaksasi dan sosialisasi, tidak cukup tidur, pekerjaannya kurang diakui atau kurang dihargai, terlalu dituntut, rutinitas, dan perfeksionis.

Burnout memang tidak terjadi dalam semalam. Itu merupakan proses yang berangsur-angsur terjadi dalam jangka waktu tertentu. Jika kita tidak memedulikan tanda peringatan, maka keadaan akan menjadi semakin buruk.

Apa yang Anda cari dalam hidup ini dengan jerih payah Anda? Kesuksesan, kekayaan, prestasi, kemuliaan, kebahagiaan? Janganlah terlalu kejam kepada diri sendiri. Ambillah waktu untuk beristirahat.

Nikmatilah hidup yang diberikan Tuhan. Syukurilah segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan dalam hidup kita. Upayakan untuk menjaga keselarasan atau keseimbangan hidup: bekerja, beraktivitas, istirahat, bersantai, berolahraga, dan bersaat teduh.

* * *

Penulis: Liana Poedjihastuti

Sumber: KristusHidup.org, 8/3/2013

(diedit seperlunya)

==========

07 Maret 2013

Dunia Gemerlap


Sekitar setahun saya bekerja di sebuah majalah gaya hidup. Beberapa kali saya ditugaskan meliput acara sosial yang dihadiri kaum jetset Jakarta.

Tamu acara ini biasanya tampil dengan pakaian dan aksesoris rancangan desainer ternama, menenteng tas bermerek terkenal, dan mengenakan sepatu berharga jutaan rupiah.


Belakangan saya mendapat info, sebagian dari tamu tersebut bukanlah kaum sosialita betulan. Mereka hanya meminjam perlengkapan mewah itu dari tempat persewaan.

Obsesinya? Agar dianggap keren, bisa masuk ke lingkaran pergaulan jetset, difoto dan ditampilkan dalam majalah gaya hidup.

Obsesi manusia akan penampilan yang gemerlap bukanlah barang baru. Kaum Farisi ribuan tahun yang lalu sudah dikenal sangat memerhatikan pernak-pernik penampilan ini.

Saat berpuasa, mereka memastikan diri tampil dengan gaya yang menunjukkan kekhusyukan ibadah mereka. Dalam ritual pentahiran yang kerap mereka lakukan, berbagai cawan dan pinggan dibersihkan hingga berkilau.

Cawan yang hanya dibersihkan bagian luarnya, dan kuburan yang dilabur putih (pada zaman itu kuburan ditandai dengan warna putih agar tidak disentuh orang) adalah metafora untuk orang yang hanya memerhatikan hal-hal lahiriah, tetapi lupa bahwa Tuhan melihat hati.

Penampilan luar tentu perlu dijaga, namun jangan untuk pamer atau menutupi kedangkalan rohani. Marilah kita mengutamakan hal-hal yang bermakna dan berharga di mata Tuhan.

Manusia kerap melihat kemolekan kulit, tetapi Tuhan menilai keelokan hati.

* * *

Penulis: Olivia Elena

Sumber: e-RH, 7/3/2013

(diedit seperlunya)

==========

05 Maret 2013

Curang


Dalam sebuah perjalanan dengan kereta api dari Semarang ke Jakarta, saya menyaksikan sebuah iklan layanan masyarakat tentang praktik berdagang yang jujur.

Di situ digambarkan ada seorang ibu yang membeli gula di pasar. Setelah menerima barangnya, si ibu curiga bahwa gula yang ia terima lebih sedikit daripada yang seharusnya.

Maka, ia pergi ke pos uji ulang yang ada di pasar itu. Ternyata benar bahwa ia telah ditipu. Ia pun kembali kepada pedagang yang menjual gula kepadanya dan memperingatkan konsekuensi hukum bagi mereka yang berdagang dengan timbangan yang curang.

Tuhan juga sangat peduli dengan praktik bisnis yang jujur. Kita baca di Kitab Suci bagaimana Tuhan marah kepada orang-orang yang melakukan kecurangan dalam menjalankan usaha. Baik itu dengan menggunakan takaran yang kurang, timbangan yang menipu, tindak kekerasan, maupun perkataan dusta.


Atas kecurangan ini, Tuhan menyatakan penghukuman dengan menarik berkat-berkat-Nya atas mereka.

Dalam menjalankan sebuah usaha, memang kita berusaha mencari keuntungan. Akan tetapi, umat Tuhan harus melakukannya dengan cara yang jujur dan menjadi berkat bagi orang lain. Sebab, Tuhan jijik terhadap praktik-praktik curang.

Bahkan, hukum juga memandang kecurangan sebagai pelanggaran. Dalam etika dunia usaha pun, meski mungkin sempat mendapat untung lebih besar, mereka yang suka menipu akhirnya akan ditinggalkan oleh para pelanggan.

Jadi, jalankanlah setiap usaha kita dengan jujur. Dan, jadilah berkat lewat cara kita menjalankan usaha. —ALS

Tak ada guna curang demi mendapat keuntungan lebih, sebab sesudahnya hati kita tak akan tenteram.

* * *

Sumber: e-RH, 12/5/2011 (diedit seperlunya)

==========

15 Februari 2013

Pantas atau Tidak?


Sari berang. Istri pendeta tadi menegurnya di gereja, karena ia mengenakan kaus dan rok mini ketika mengikuti ibadah Minggu. "Kita perlu berpakaian pantas saat beribadah," kata istri sang pendeta.

Di dalam hati Sari mengumpat, "Apanya yang tidak pantas? Tidak bolehkah aku mengikuti perkembangan mode? Apakah menurut Alkitab, memakai rok mini itu dosa?"


Pantas artinya: cocok, sesuai, patut, atau layak. Berbicara soal kepantasan tidak selalu berkaitan dengan dosa. Ini menyangkut hikmat dalam membawa diri, sesuai dengan status dan lingkungan.

Di Israel, misalnya, tidak ada larangan bagi raja untuk minum anggur. Rakyat jelata pun biasa minum anggur sampai mabuk guna melupakan sejenak kesusahan hidup.

Dalam pesta perjamuan raja, minum anggur adalah hal biasa. Namun, seorang raja bernama Lemuel dinasihati ibunya agar tidak minum anggur.

"Tidaklah pantas bagi raja minum anggur," katanya. Mengapa? Minuman keras bisa memabukkan. Jika seorang kepala negara mabuk, ia tidak dapat memutuskan perkara dengan benar dan adil. Akibatnya, rakyat bisa menjadi korban ketidakadilan dan penindasan!

Bicara soal kepantasan bukan melulu mempersoalkan benar salahnya suatu tindakan. Ada hal yang tidak salah, tetapi tidak pantas dilakukan oleh seorang dengan status atau jabatan tertentu. Orang lain bisa tersandung jika ia melakukannya.

Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya bersikap, berperilaku, berbicara, dan berpenampilan pantas sesuai status yang saya sandang? —JTI

Hanya anak kecil yang selalu bertanya "boleh atau tidak". Seorang dewasa perlu bertanya "pantas atau tidak".

* * *

Sumber: e-RH, 27/4/2011 (diedit seperlunya)

Judul asli: Pantaskah?

==========

02 Februari 2013

One Man Show


"Delapan dari sepuluh pebisnis mengalami masalah ketika melakukan regenerasi kepada anaknya," ujar seorang business coach yang saya wawancarai.

Menurutnya, pada masa seperti inilah biasanya perusahaan digoyang konflik. "Itu disebabkan karena si pengusaha senior sudah terbiasa menjadi superman!"

Superman? Ternyata yang ia maksud adalah kecenderungan bersikap 'one man show', yakni keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu seorang sendiri dan sulit untuk memercayai orang lain.


Sindrom yang kerap menjangkiti pebisnis senior ini adalah merasa paling tahu dan paling andal dalam menjalankan bisnis.

Akibatnya, putra-putri yang seharusnya dididik sejak dini untuk menjadi penerus malah merasa tersisih dan akhirnya alih generasi tidak berlangsung secara mulus.

Seorang pebisnis sibuk mengembangkan usahanya. Apakah itu salah? Tidak. Masalahnya adalah ketika ia mencurahkan seluruh jiwa dan hidupnya demi bisnisnya itu. Orang sekarang menyebutnya 'workalholic'. Ia tamak dalam bekerja dan mengeruk laba.

Tamak, dalam bahasa Yunani adalah pleonexia, berarti keinginan yang tidak terkendali, tidak ada habisnya. Orang ini sibuk menjadi superman sampai lupa akan hal-hal yang lebih penting dan lebih abadi.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa serba mampu dan mandiri hingga lupa akan anugerah-Nya yang memampukan kita berkarya?

Apakah kita masih meluangkan waktu untuk membagikan pengetahuan dan kecakapan kepada generasi penerus kita? —Olivia Elena

Harta seharusnya hanya merupakan alat. Ketamakan membuatnya berbalik memperalat kita.

* * *

Sumber: e-RH, 18/1/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Superman

==========

25 Januari 2013

Membuang Makanan


National Resources Defense Counsel, badan ketahanan pangan nasional AS, pada Agustus 2012 mengeluarkan laporan mengejutkan.

Menurut surveinya, warga AS membuang 40% makanan mereka. Nilainya setara dengan 165 miliar dolar per tahun, atau lebih dari 10 kilogram per orang per bulan. Dampaknya luas.

Warga AS menderita obesitas paling parah di dunia. Mereka juga memboroskan penggunaan lahan, air segar, dan sekian banyak bahan kimia.


Belum lagi, limbah makanan itu menyumbangkan 25% emisi gas metana di negeri itu.

Misalkan mereka membuang makanan hanya sebanyak 15%, maka 25 juta orang akan dapat menikmati kecukupan pangan selama setahun penuh. Sebuah potret yang membuat kita mengelus dada.

Makanan terlalu berharga untuk dihamburkan. Tahukah Anda bahwa makanan adalah pemberian pertama Tuhan yang tercatat di dalam Kitab Suci?

Tuhan menciptakan alam semesta dengan firman-Nya. Puncaknya, Tuhan menciptakan manusia dan memberkati mereka. Tuhan memberikan tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji sebagai makanan manusia. Pemberian-Nya itu sesuatu yang baik bagi kesejahteraan manusia.

Ketika menjumpai hidangan di meja makan, kita sedang menyambut pemberian yang baik dari Tuhan. Apakah kita sungguh-sungguh mengucap syukur atas makanan itu?

Apakah kita memilih makanan secara arif? Apakah kita makan dengan pola makan yang sehat, tidak berlebihan, dan tidak menghamburkannya secara sembrono? —Arie Saptaji

Ketika kita menikmati makanan, kita menikmati pemeliharaan Tuhan.

* * *

Sumber: e-RH, 25/1/2013 (diedit seperlunya)

==========

11 Januari 2013

Bisnis Supaya Bisa Tidur


Apakah Anda mengidap insomnia atau sindrom sulit tidur? Di Amerika Serikat, menurut laporan Time, belakangan semakin berkembang berbagai kesempatan bisnis sehubungan dengan insomnia.

Diperkirakan, pada 2012, saat perekonomian mereka lesu, "bisnis tidur" ini meraup pendapatan lebih dari 32 miliar dolar, terus naik dari tahun-tahun sebelumnya.

Mulai dari obat-obatan, tempat tidur, lilin terapi, sampai konsultan, bisnis ini menawarkan berbagai kebutuhan bagi mereka yang mengalami kesulitan tidur.


Sulit tidur memang merepotkan dan dapat menguras biaya ekstra. Namun, kita yang bisa tidur lelap hari demi hari biasanya menganggap tidur nyenyak itu sebagai hal yang memang sudah seharusnya begitu.

Jarang kita memikirkan arti penting dan manfaat tidur. Menariknya, Kitab Suci cukup banyak membicarakan aktivitas ini, dan kebanyakan menyorotinya secara positif.

Tidur nyenyak itu tak lain adalah suatu berkat dari Tuhan. Tidur merupakan salah satu bentuk pemeliharaan dan penjagaan Tuhan atas hidup kita.

Orang yang hatinya berpaut pada Tuhan akan sejahtera jiwanya, dan pada gilirannya tubuh lahiriah-nya pun akan dapat beristirahat dengan tenteram.

Hari ini, saat terjaga dari tidur atau saat berbaring menjelang tidur, bagaimana jika kita meluangkan waktu untuk merenungkan berkat Tuhan yang unik ini?

Biarlah kesadaran ini menolong kita mengembangkan pola tidur yang sehat: tidak berlebihan, tidak pula kerap bergadang. —ARS

Tidur adalah sebuah tindakan iman: menyerahkan keberadaan kita kepada Dia yang tidak pernah tidur.

* * *

Sumber: e-RH, 11/1/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Bisnis Tidur

==========

07 Januari 2013

Bahaya Kabar Angin


Setiap tahun pada bulan November, rakyat dari seluruh pelosok Kamboja membanjiri ibu kota Phnom Penh untuk menghadiri Festival Air.

Pada 2010, festival akbar ini berubah menjadi petaka: 450 orang tewas di Jembatan Berlian, pusat berlangsungnya festival.

Para pengunjung panik karena tersebar kabar angin bahwa jembatan itu tidak stabil. Alhasil, banyak korban tewas terinjak sesamanya dan terjun ke Sungai Tonle Sap.

Kabar angin dapat didengungkan secara iseng, namun dapat pula secara sengaja dengan disertai niat jahat. Efeknya tak jarang lebih kejam dari tikaman pedang tajam.

Kabar angin, begitu dilontarkan, akan menyebar secara tak terkendali. Baik pencetus maupun penyebarnya tidak akan mampu mengontrol dampaknya.


Ada dua hal yang dibenci Tuhan berkaitan dengan kabar angin. Yang pertama: lidah dusta, mengacu pada pencetusnya. Yang kedua: saksi dusta, menunjuk pada penyebarnya.

Mengapa Tuhan menyampaikan peringatan yang begitu keras tentang kedua hal itu?

Si pencetus dan si penyebar kabar angin sama-sama pengecut, tidak memiliki sikap ksatria. Kejahatannya bukan hanya membunuh karakter seseorang, namun dapat pula memakan ribuan korban. Bahkan ada perang antarbangsa yang pecah gara-gara kabar angin.

Kita perlu menjaga hati dan lidah dengan penuh kewaspadaan agar tidak mencetuskan atau menyebarkan kabar angin. Bagaimana menjaganya? Dengan mempersilakan firman Tuhan, yaitu firman kebenaran, menguasai hati kita. —SST

Lidah akan terkendali jika hati kita dikuasai oleh kebenaran.

* * *

Sumber: e-RH, 7/1/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Petaka Kabar Angin

==========

01 Januari 2013

Tirani Kebaruan


Hal yang baru biasanya menyenangkan dan menyegarkan. Di tahun baru ini mungkin kita telah membeli baju baru, sepatu baru, dan barang-barang baru lainnya.

Di satu sisi, memang membeli barang-barang baru merupakan keniscayaan karena tidak ada barang yang tahan selamanya. Barang yang sudah usang dan rusak perlu diganti dengan yang baru.

Namun di sisi lain kita sering tidak sadar bahwa sistem pasar global menggiring kita untuk selalu membeli sesuatu yang lebih baru. Parahnya, sering kali kita tidak berdaya untuk menolak “paksaan” tersebut dan terpaksa ikut membeli sesuatu yang sebetulnya belum kita perlukan.

Di semua bidang kehidupan ada tuntutan untuk ‘melek’ akan hal yang baru. Di bidang musik, misalnya, sebagian besar masyarakat selalu tidak mau ketinggalan untuk tahu lagu-lagu baru agar tidak dibilang ‘kuper’.

Teknologi hardware dan software yang selalu berkembang pun menyeret masyarakat untuk selalu membeli dan mempelajari teknologi baru.


Derasnya arus kebaruan yang menghanyutkan ini sering kali tidak disadari menjadi tirani bagi manusia. Tanpa sadar manusia telah diperbudak oleh hasrat untuk memiliki hal-hal terbaru.

Tirani kebaruan merupakan tuan yang kejam. Ia membutakan mata kita akan nilai-nilai luhur dari hal-hal lama, dan memasung pandangan kita sehingga kita yakin bahwa hal-hal baru pasti lebih baik dibanding yang lama.

Tirani kebaruan membuat kita tamak, tidak pernah puas, dan haus terus-menerus akan hal-hal baru. Ia meyakinkan kita bahwa bungkus lebih penting daripada isi, bahwa bentuk lebih utama daripada fungsi.

Di awal tahun ini, marilah kita merenungkan apakah kita membeli barang-barang baru hanya sekadar demi kebaruan? Waspadalah, jangan-jangan kita adalah salah satu budak tirani kebaruan. —Danny Salim

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 1/1/2013 (diedit seperlunya)

==========

Artikel Terbaru Blog Ini