08 Oktober 2012

Pakaian


Tentang pakaian, ada orang yang sesuka hati saja. Dia bisa memakai pakaian yang disukainya sampai kusam, hilang warnanya, atau sedikit sobek. [Maaf, itu contoh yang buruk dalam hal fashion.]

Juga tentang pakaian, seorang dosen berkata, “Saya paling tidak peduli mahasiswa masuk kelas saya memakai sandal jepit dan kaos oblong, asalkan mereka datang kuliah membawa ‘otak’ mereka.”

Masih tentang pakaian, konon ada seorang pekebun kayu sengon yang mengenakan sarung dan kopiah lusuh. Ia disangka pengemis sehingga diusir oleh karyawan showroom mobil, padahal dia hendak membeli mobil niaga.


Para pakar fashion meyakini, pakaian itu mengekspresikan pribadi seseorang. Pakaian rapi yang Anda kenakan mencerminkan diri sebagai pribadi yang rapi dalam bekerja, bahkan hidup pun tertata rapi, benarkah?

Ada yang menilai pakaian itu simbol prestise sosial, tak heran kalau brand atau merek ternama menjadi ikon masyarakat kelas atas.

Pakaian dinas juga dianggap sebagai simbol otoritas dalam masyarakat, seperti kata Erich Fromm, “Otoritas yang nyata (dianggap nyata) dialihkan pada pakaian dinas... meski pakaian dinas itu tidak selalu mewakili kualitas kompetensi seseorang.”

Pakaian lazim dijadikan simbol otoritas, prestise sosial, dan identitas seseorang. Anda mungkin termasuk orang yang respek fashion, memberi perhatian ekstra pada pakaian yang Anda dan orang lain kenakan.

Itu hak asasi, tetapi apakah sikap dan reaksi Anda juga asasi (bersifat mendasar)? Apakah orang-orang berpakaian mahaltentu saja indah, modis, dan bagusyang selalu menyita prioritas dan rasa hormat Anda? Apakah Anda merasa tidak nyaman bergaul, atau terbiasa memicingkan mata kepada yang berpakaian biasa-biasa saja?

Sebuah nasihat bijak mengatakan agar kita tidak menilai orang lain berdasarkan pakaiannya. Di mata Tuhan kita itu sama, entah mengenakan pakaian bermerek, seragam tentara, ataupun kaos oblong. Kita semua diperlakukan istimewa oleh Tuhan, tidak dibedakan berdasarkan pakaian yang kita kenakan.

Mungkin “benar” pakaian bisa merepresentasikan seseorang itu kaya atau miskin, bos atau jongos, tetapi tidak benar jika kita hanya mengasihi yang berpakaian indah, hanya menghormati yang berpakaian dinas.

Janganlah kita menghakimi ataupun memuliakan seseorang karena pakaian. “Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan, dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” Hargailah orang lain karena dia adalah pribadi yang harus dihargai. —Agus Santosa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 8/10/2012 (diedit seperlunya)

==========

Artikel Terbaru Blog Ini