05 Maret 2013

Curang


Dalam sebuah perjalanan dengan kereta api dari Semarang ke Jakarta, saya menyaksikan sebuah iklan layanan masyarakat tentang praktik berdagang yang jujur.

Di situ digambarkan ada seorang ibu yang membeli gula di pasar. Setelah menerima barangnya, si ibu curiga bahwa gula yang ia terima lebih sedikit daripada yang seharusnya.

Maka, ia pergi ke pos uji ulang yang ada di pasar itu. Ternyata benar bahwa ia telah ditipu. Ia pun kembali kepada pedagang yang menjual gula kepadanya dan memperingatkan konsekuensi hukum bagi mereka yang berdagang dengan timbangan yang curang.

Tuhan juga sangat peduli dengan praktik bisnis yang jujur. Kita baca di Kitab Suci bagaimana Tuhan marah kepada orang-orang yang melakukan kecurangan dalam menjalankan usaha. Baik itu dengan menggunakan takaran yang kurang, timbangan yang menipu, tindak kekerasan, maupun perkataan dusta.


Atas kecurangan ini, Tuhan menyatakan penghukuman dengan menarik berkat-berkat-Nya atas mereka.

Dalam menjalankan sebuah usaha, memang kita berusaha mencari keuntungan. Akan tetapi, umat Tuhan harus melakukannya dengan cara yang jujur dan menjadi berkat bagi orang lain. Sebab, Tuhan jijik terhadap praktik-praktik curang.

Bahkan, hukum juga memandang kecurangan sebagai pelanggaran. Dalam etika dunia usaha pun, meski mungkin sempat mendapat untung lebih besar, mereka yang suka menipu akhirnya akan ditinggalkan oleh para pelanggan.

Jadi, jalankanlah setiap usaha kita dengan jujur. Dan, jadilah berkat lewat cara kita menjalankan usaha. —ALS

Tak ada guna curang demi mendapat keuntungan lebih, sebab sesudahnya hati kita tak akan tenteram.

* * *

Sumber: e-RH, 12/5/2011 (diedit seperlunya)

==========

Artikel Terbaru Blog Ini